KKN UMG KELOMPOK 1 KENALKAN ALAT PENGUSIR HAMA OTOMATIS DI DESA MLIRIP KECAMATAN JETIS KABUPATEN MOJOKERTO
Jawaposnusantara.com || Mojokerto - Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) Kelompok 1 di Desa Mlirip, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, kamis, 27/8/2026
Acara tersebut menghadirkan sebuah gagasan menarik dalam upaya menjawab persoalan klasik yang selama ini dihadapi para petani, yaitu serangan hama burung terhadap tanaman pangan. Melalui inovasi teknologi tepat guna (TTG) berupa alat pengusir hama otomatis berbasis sensor gerak, mahasiswa KKN tidak sekadar menghadirkan solusi teknis, tetapi juga membangun ruang dialog antara dunia akademik dan realitas kehidupan
masyarakat desa yang bergantung pada sektor pertanian.
Pelaksanaan kegiatan di balai Desa Mlirip, dimulai pukul 20.00 WIB dan dihadiri oleh sekitar dua puluh peserta yang terdiri atas perangkat desa serta pemuda Karang Taruna setempat. Pemilihan waktu malam hari sekaligus mencerminkan kepekaan mahasiswa KKN terhadap ritme kehidupan warga desa, yang pada umumnya baru dapat berkumpul dan berdiskusi setelah menuntaskan aktivitas keseharian mereka di ladang maupun di rumah.
Kegiatan pengenalan teknologi tepat guna ini dipandu langsung oleh dua mahasiswa, Riski Oktavi Ardiansyah dan Achmad Ubaidillah Al Habib, dengan pendampingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Dr. Dodi Jaya Wardana, S.H., M.H. Kehadiran DPL dalam forum tersebut menegaskan bahwa proses transfer pengetahuan dari kampus ke masyarakat tidak berjalan secara sepihak, melainkan berada dalam kerangka pembimbingan akademik yang memastikan gagasan yang disampaikan memiliki landasan keilmuan sekaligus relevansi praktis bagi kebutuhan
Rangkaian acara diawali dengan sambutan Ketua KKN Kelompok 1. Pada kesempatan tersebut, Lutfi selaku salah satu mahasiswa KKN menjelaskan latar belakang dirancangnya alat pengusir hama otomatis. Ia mengungkapkan bahwa masih banyak petani yang mengandalkan jaring sebagai metode pengamanan tanaman, padahal cara tersebut belum sepenuhnya efektif karena hama burung masih dapat menyusup melalui sisi samping maupun bagian bawah tanaman.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi titik tolak yang memperlihatkan, bagaimana observasi lapangan menjadi dasar utama dalam merumuskan solusi teknologi yang benar-benar dibutuhkan masyarakat.
Selanjutnya, sambutan turut disampaikan oleh Ketua Karang Taruna Desa Mlirip, Argo Wicaksono, yang menyampaikan apresiasi atas kesempatan belajar yang dihadirkan mahasiswa KKN bagi para pemuda desa. Argo turut mendorong generasi muda setempat untuk memanfaatkan momentum sebagai sarana memperkaya wawasan dan mengasah keterampilan.
Memasuki sesi inti, pemaparan mengenai alat pengusir hama otomatis disampaikan oleh Riski Oktavi Ardiansyah yang akrab disapa Ardi. Ia menjelaskan bahwa inovasi tersebut dirancang sebagai alternatif atas metode konvensional yang selama ini digunakan petani, seperti pemanfaatan kaleng bekas maupun jaring, yang dinilai kurang efisien karena masih membutuhkan kehadiran manusia secara terus-menerus untuk mengoperasikannya.
Ardi menegaskan bahwa metode tradisional tersebut memiliki keterbatasan signifikan sebab tidak mampu bekerja secara mandiri ketika petani meninggalkan lahan, sehingga potensi kerugian akibat serangan hama tetap tinggi.
Berangkat dari persoalan tersebut, alat pengusir hama otomatis dikembangkan agar mampu bekerja secara mandiri dengan memanfaatkan sensor gerak sebagai pemicu utama. Ardi memaparkan bahwa alat ini memberikan sejumlah manfaat, mulai dari kemampuan mengusir burung secara otomatis, mengurangi risiko kerusakan tanaman dan hasil panen, hingga menghemat waktu dan tenaga petani.
Prototipe yang diperkenalkan pada kesempatan tersebut memiliki jangkauan efektif sekitar tiga hingga tujuh meter dan masih terbuka peluang untuk terus dikembangkan agar dapat menjangkau cakupan lahan yang lebih luas.
Pemaparan kemudian dilanjutkan oleh
Achmad Ubaidillah Al Habib yang dikenal dengan sapaan Ubed. Ia menguraikan aspek teknis dari alat tersebut, mulai dari komponen-komponen penyusun hingga mekanisme kerja masing-masing bagian di dalamnya. Penjelasan yang disampaikan secara sistematis ini memberikan pemahaman kepada peserta mengenai keseluruhan proses perancangan, sejak tahap awal hingga terwujudnya prototipe alat pengusir hama otomatis berbasis sensor gerak yang siap diujicobakan di hadapan warga.
Puncak dari sesi pemaparan ditandai dengan demonstrasi langsung prototipe alat kepada seluruh peserta. Demonstrasi tersebut memperlihatkan respons alat secara nyata ketika sensor mendeteksi adanya gerakan di sekitarnya. Peserta turut mendapatkan penjelasan bahwa sensor pada prototipe membutuhkan waktu kalibrasi sekitar tiga puluh hingga lima puluh detik sebelum dapat digunakan secara optimal .
Tim

Komentar
Posting Komentar